Catatan Perjalanan Afthon Lubbi (Relawan di Aceh)
polixnews.com, Takengon Aceh Tengah, 18 Januari 2026. Seperti biasa, di posko relawan, bangun jam 4 pagi. Subuh masih lama, jam 5:25. Ku terus mandi, sholat, nyuci baju, ke masjid, subuhan, dan ngaji. Tak lupa bawa kopi, duduk sila menghirup udara pagi.
Tak sedingin Bener Meriah yang menusuk tulang, mengecilkan nyali mandi pagi, Takengon memberikan hangat dan dingin yang seimbang. Di sini memang tempat wisata, memiliki potensi menjadi destinasi wisata dunia.
Hangat dan sejuk seimbang, danau cantik yang super duper luas dikelilingi pegunungan, sunrise dan sunset punya, masyarakat yang sangat ramah, kuliner enak dan khas, ikan air tawar dan udang, duren terbaik, dan yang sudah mengglobal, kopi Gayo.
Gayo sendiri adalah nama suku anak bangsa yang mayoritas hidup di 3 kabupaten; Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Luwes. Selain di dataran tinggi Aceh, suku ini menyebar ke kabupaten lain; Tamiang, Aceh Tenggara, dan Aceh Timur.
Tentang Gayo, saya teringat salah satu wakif Pesantren Darunnajah. Ibu Yusuf Gayo, yang memberikan tanahnya kepada pesantren untuk dikelola menjadi lembaga pendidikan. Di sana, saya berkhidmat membantu Kiai Muda Darunnajah yang sedang merintis pesantren cabang. Menurut beliau, asbab pesantrennya maju adalah keikhlasan wakifnya, Ibu Gayo. Dari 12 santri perdana, menjadi seribuan, dalam waktu yang cukup cepat.
Tiga hari di sini, menyaksikan Lut Tawar, danau cantik yang terluka akibat keserakahan manusia. Masyarakat kehilangan rumah, kebun, serta mata pencaharian. Tak ingin menyalahkan siapapun, tapi berharap, bencana ini membuka mata kita. Takengon dengan segala yang dimiliki, memiliki potensi yang sangat besar menjadi destinasi wisata global.
Jika Austria memiliki Hallstatt, desa tercantik di dunia. Kita punya yang lebih cantik, Takengon. Hari ini ia sedang terluka. (*)




