Oleh : Afthon Lubbi – Pemred
polixnews.com, Ruang publik Indonesia kembali riuh. Bukan karena perdebatan gagasan yang jernih, melainkan oleh dengung bising yang sengaja diciptakan. Kritik—yang semestinya menjadi napas demokrasi—kini kerap berhadapan dengan barisan pendengung politik yang tugas utamanya bukan menjawab, melainkan menenggelamkan.
Lagu Republik Fufufafa yang dirilis Slank dan pertunjukan Mens Rea Panji Pragiwaksono adalah dua penanda penting. Keduanya lahir dari keresahan, disampaikan lewat medium seni, dan menyasar kesadaran publik. Namun reaksi yang muncul menunjukkan satu pola lama: kritik tidak diladeni dengan argumen, melainkan diserbu dengan serangan personal, tuduhan motif, dan pembelokan isu. Pendengung bekerja rapi—mengaburkan substansi, merusak konteks, dan memecah perhatian.
Panji sejak awal memahami risiko itu. Trauma “dagelan kucing” membuatnya sadar bahwa ruang terbuka digital sering kali tak proporsional. Maka ia memilih jalur selektif: pertunjukan berbayar, penonton tersaring, kanal tertutup. Mens Rea dipentaskan di 11 kota, disaksikan puluhan ribu orang, tanpa huru-hara—bahkan ketika suhu politik memanas. Di ruang terbatas itu, dialektika berjalan. Kritik diarahkan bukan pada elite semata, melainkan pada kesadaran warga agar tak terus menjadi objek politik.
Masalah muncul ketika karya yang lahir dari ruang selektif itu masuk ke ruang terbuka yang random—Netflix, media sosial—dengan penonton dan kepentingan yang beragam. Kritik pun dipreteli. Yang disorot bukan gagasan, melainkan sosok. Nama, niat, bahkan riwayat politik Panji dipersoalkan. Pendengung menemukan ladang subur.
Slank memilih jalan berbeda. Sejak lahir dari Gang Potlot awal 1980-an, mereka terbiasa bertarung di ruang terbuka. Empat dekade lebih berhadapan dengan publik, kekuasaan, dan perubahan zaman. Maka ketika Republik Fufufafa dirilis, Slank tahu risikonya. Lagu itu menyodorkan nilai, bukan sekadar figur. Namun serangan tetap datang—lagi-lagi bukan pada isi lagu, melainkan pada tuduhan tak tahu balas budi, inkonsistensi politik, dan masa lalu dukungan elektoral. Polanya sama: substansi dikaburkan.
Padahal Slank telah lama menegaskan sikapnya: mereka mendukung nilai, bukan sosok. Ketika nilai dianggap berubah, dukungan pun dicabut. Argumen ini sederhana dan masuk akal dalam demokrasi. Namun di tangan pendengung, logika semacam itu dipelintir menjadi pengkhianatan.
Di sinilah persoalan yang lebih besar muncul. Pendengung politik bukan sekadar fenomena komunikasi digital; ia adalah mekanisme pembusukan dialektika. Alih-alih mempertemukan argumen, ia menciptakan keruh. Kritik dibalas dengan label. Pertanyaan dijawab dengan serangan personal. Publik digiring untuk sibuk pada siapa berbicara, bukan apa yang dibicarakan.
Akibatnya berbahaya. Dialektika berpikir bangsa—yang seharusnya tumbuh dari perbedaan—menjadi tumpul. Ketakutan menggantikan keberanian. Banyak yang memilih diam, atau bersembunyi di ruang tertutup, karena ruang terbuka dianggap beracun. Demokrasi kehilangan energi korektifnya.
Padahal Indonesia sedang membutuhkan sebaliknya. Lahirnya generasi baru—Panji, dan banyak anak muda lain di luar radar media—adalah investasi penting. Mereka memilih jalur berbeda, sering kali di luar sistem. Begitu pula Slank, yang dengan caranya sendiri terus membuka ruang diskusi. Keduanya, dengan segala pro-kontra, berkontribusi pada satu hal: menjaga kritik tetap hidup.
Pendengung politik mungkin efektif meredam sesaat. Namun sejarah menunjukkan, kritik yang jujur selalu menemukan jalannya. Tugas negara dan masyarakat bukan membungkamnya, melainkan memastikan ruang publik cukup sehat untuk menampung perbedaan. Tanpa itu, yang tersisa hanyalah kebisingan—dan demokrasi yang berjalan di tempat. (*)




