polixnews.com, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digembar-gemborkan sebagai penyelamat gizi anak bangsa kini berada di ujung tanduk. Fakta di lapangan justru membuka borok serius: dapur kotor, sanitasi amburadul, hingga temuan ayam goreng berbelatung yang mengundang tanda tanya besar.
Anggota Komisi IX DPR RI Irma Suryani Chaniago tanpa basa-basi melayangkan peringatan keras kepada Badan Gizi Nasional (BGN). Ia menilai kondisi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di banyak daerah sudah melewati batas toleransi dan berpotensi memicu bencana kesehatan massal.
“Ini bukan dapur standar, tapi rumah biasa yang dipaksakan jadi dapur umum. Ventilasi nyaris tidak ada, pembuangan air susah, baunya menyengat, sanitasinya kacau. Kalau ini dibiarkan, jangan kaget kalau nanti meledak jadi masalah besar,” tegas Irma dalam Rapat Dengar Pendapat di Gedung Nusantara I, Senayan, Selasa (20/1/2026).
Kritik Irma tak berhenti di situ. Ia membeberkan fakta mencolok soal sertifikasi kebersihan. Dari ribuan dapur MBG yang beroperasi, hanya sekitar 32 persen yang mengantongi Sertifikat Laik Hygiene Sanitasi (SLHS). Sisanya? Beroperasi tanpa jaminan standar kebersihan, namun tetap menyajikan makanan untuk anak-anak dan ibu hamil.
Situasi ini, menurut Irma, menunjukkan kelalaian sistemik dalam pelaksanaan program prioritas negara. Negara seolah menutup mata terhadap risiko kesehatan demi mengejar target politik dan pencitraan.
Yang paling menggemparkan, Irma menyinggung temuan makanan matang tak layak konsumsi, termasuk ayam goreng yang ditemukan mengandung belatung hidup. Temuan ini bukan sekadar memalukan, tapi mengarah pada dugaan serius.
“Kalau belatung ada di sayur, masih bisa dimengerti. Tapi ini ayam goreng, sudah dimasak. Belatungnya masih hidup. Ini enggak masuk akal. Kalau bukan kelalaian fatal, ya harus dicurigai ada sabotase,” sentilnya tajam.
Pernyataan ini menjadi alarm keras bagi pemerintah. Program MBG yang seharusnya melindungi masa depan anak bangsa justru terancam berubah menjadi mesin keracunan massal jika pengawasan dibiarkan longgar.
Irma mendesak BGN melakukan evaluasi total, bukan sekadar laporan di atas kertas. Tanpa perbaikan menyeluruh, MBG bukan lagi soal gizi, melainkan pertaruhan nyawa dan kepercayaan publik.
Pesannya jelas: negara tidak boleh main-main dengan makanan anak sekolah. Jika dapur kotor terus dibiarkan, skandal MBG tinggal menunggu waktu.(*)




