Setelah gerakan bendera One Piece, meledak tapi berhasil dijinakkan oleh “Tim Jihandak”, pemerintah kembali mendapatkan “teror”.
Kali ini, “ancaman negara” bukan dari serial kartun Anime Jepang, tapi datang dari panggung komedi yang menertawakan pemerintah.
Pandji Pragiwaksono bukan hanya otak utama, mastermind, tapi pengantin teror yang memasang “bahan peledak” di badannya. Duarrr!!! Meledak di Indonesia Arena, 10.000 penonton menyaksikan dengan penuh tawa.
Ledakan tawa yang hanya dinikmati secara terbatas itu, kini tayang di layanan streaming berbasis langganan berbayar, Netflix. Ditonton oleh jutaan orang, menjadi special show pertama dan terbesar di Asia Tenggara. Dari ruang tertutup, tayang terbuka di public sphare dan public space, di jalanan, gerbong kereta, taman kota, hingga ruang keluarga di seluruh dunia, borderless.
Pandji berhasil menyebar teror tawa. Misinya mengedukasi pemilih pelayan rakyat cukup berhasil, meski belum sampai 50 persen plus 1 untuk memenangkan pertarungan.
Mengapa Pandi begitu berani? Karena dia usil. Usil adalah proses kreatif tahap awal. Keusilan Pandji sangat sederhana, dia resah dan ditulis sebagai materi komedi. Dia sama sekali tidak takut menyebut nama, sekaligus menyebut dosanya. Menurut keyakinan Pandji, apa yang dia sampaikan bukanlah “Mens Rea”.
Mengapa Pandji yakin? Karena dia membaca aturan. Menurut keyakinan saya, Pandji tidak akan dijadikan tersangka atas laporan kepolisian yang dibuat oleh ormas dadakan yang mengatasnamakan NU dan Muhammadiyah. Menurut keyakinan saya, kedua rombongan liar yang dikasih mic menggunakan mobil komando itu disuruh oleh orang kuat yang selalu teriak “ada orang kuat”.
Mengapa dua rombongan liar itu mendemo Pandji? Pertama, karena belum dapat 19 juta lapangan pekerjaan. Kedua, karena mereka tidak tahu aturan. Itu menurut keyakinan saya.
Pandji tahu betul berhadapan dengan siapa. Dia tahu aturan mainnya. Makanya dia santai. Istilahnya Pandji lagi “nyayur”. Bukan hanya cuan buat dia, bahkan lebih dari panggung yang semakin besar dan popularitas. Tapi industri kreatif yang menguntungkan banyak orang, dari kaos sampai kopi. Kalau negara waras, Pandji layak jadi duta tawa Indonesia.
Pandji dicibir, bolak-balik ke Amrik, tapi tidak laku-laku. Mens Rea itu pembuktian, tayang di Netflix menguatkannya. Industri Komedi suka orang kayak Pandji.
Pandji cerdas, selain ngerti aturan, dia tahu petanya. Dia pasti baca. Pemerintah Indonesia tidak akan berani macam-macam sama WNI yang tinggal di Amerika ini. Pandji berlindung di bawah aturan-aturan itu. Mengapa dia mudah bolak-balik ke Amerika? Karena dia taat aturan. Sebaliknya, jika negara menangkap warganya yang taat aturan, maka negara memiliki “Mens Rea”
Afthon Lubbi




