polixnews.com, Presiden RI Prabowo Subianto kembali menjadi sorotan setelah sebuah video pidatonya beredar luas di media sosial. Dalam rekaman tersebut, Prabowo salah menyebut Tahun Baru 2026 sebagai Tahun Baru 2021 saat menyampaikan pidato singkat pada malam pergantian tahun.
Peristiwa itu terjadi ketika Prabowo menghabiskan malam Tahun Baru di Posko Pengungsian Desa Batu Hula, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Rabu malam, 31 Desember 2025. Kehadiran Presiden di lokasi pengungsian dimaksudkan untuk menyampaikan empati sekaligus pesan pergantian tahun kepada warga terdampak bencana.
Namun, alih-alih menjadi simbol kepemimpinan di momen transisi waktu, potongan pidato itu justru memicu perbincangan publik. Dalam video yang beredar, Prabowo mengucapkan selamat menyongsong Tahun Baru 2021 tanpa koreksi lanjutan. Acara tetap berlanjut, sementara potongan pidato tersebut menyebar cepat di linimasa digital.
Respons warganet terbagi. Sebagian menilai kesalahan itu sebagai selip lidah yang lazim terjadi dalam komunikasi publik. Namun, sebagian lain menyorotnya sebagai soal ketepatan pesan seorang kepala negara, terutama di momen simbolik seperti pergantian tahun yang sarat makna politik dan psikologis.
Dalam komunikasi politik, pidato bukan sekadar rangkaian kata, melainkan instrumen pembentukan persepsi. Kesalahan menyebut tahun, meski terdengar sepele, membuka ruang tafsir di tengah publik yang semakin kritis. Di era media sosial, satu kekeliruan verbal dapat menutup pesan utama yang hendak disampaikan.
Hingga berita ini ditulis, belum ada klarifikasi resmi dari Istana terkait kesalahan ucap tersebut. Absennya penjelasan itu justru memberi ruang bagi narasi alternatif berkembang tanpa kendali, diproduksi ulang dalam bentuk satire, potongan video, dan komentar spekulatif.
Peristiwa ini menegaskan tantangan komunikasi politik di era digital. Ketika pesan disampaikan dalam hitungan detik, kesalahan sekecil apa pun bisa menjadi isu tersendiri. Di malam pergantian tahun—saat publik menaruh perhatian pada angka dan waktu—ketepatan ucapan bukan sekadar teknis, melainkan bagian dari simbol kepemimpinan.




